Buntok - Kantor Kementerian Agama Kabupaten Barito Selatan melaksanakan upacara peringatan Hari Amal Bakti (HAB) ke 80 Kementerian Agama Republik Indonesia.
Kegiatan tersebut dilaksanakan di halaman Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Buntok, Sabtu 3 Januari 2006.
Upacara itu diikuti oleh seluruh ASN di lingkungan Kementerian Agama Kabupaten Barito Selatan, dan Darma Wanita Persatuan Kementrian Agama Barsel, Pelajar MAN PK Buntok, MTsN dan MIM Buntok serta undangan lainnya.
Bertindak sebagai Pembina Upacara H. Hairil Saleh Al Zainudin, S.A.Ρ., Μ.Α.P. Komandan Upacara Fahmi Ridla, S.Pd.I, Perwira Upacara Al Mubin, Ajudan Ahmad Syahrudin.
Pembaca UUD Tahun 1945 Rita Sholehah, S.Pd.I, Pembaca Panca Prasetya Korps Pegawai Republik Indonesia Naily Fithriyati, S.Pd.I. Dirigen Ernie Yusnitha, S.Pd. Pembaca Doa Maskuni, S.Ag., M.H. Paduan Suara Siswa-Siswi MTsN Barito Selatan. Pengibar Bendera PASKIBRAKA MAN Barito Selatan Plus Keterampila dan Pembawa Acara Hapni Yesi, S.Kom.
Usai upacara dilaksanakan acara tambahan dengan penyerahan sertifikat tanah kepada yayasan dan juga penghargaan kepada ASN Kantor Kementerian Agama Barsel yang telah mengabdi selama 30 tahun, 20 tahun dan 10 tahun serta juga di berikan kenang-kenangan kepada ASN Kementerian Agama yang telah purna tugas dan berbagai penghargaan untuk ASN yang berprestasi serta diserahkan pula berbagai hadiah lomba dalam rangka peringatan HAB 80 Kementerian Agama Kabupaten Barito Selatan.
Inspektur upacara H. Hairil Saleh Al Zainudin membacakan amanat Menteri Agama Republik Indonesia Nasrudin Umar.
"Hari ini kita memperingati Hari Amal Bakti ke-80 Kementerian Agama dengan mengusung tema Umat Rukun dan Sinergi, Indonesia Damai dan Maju. Tema ini menegaskan bahwa kerukunan bukan sekadar ketiadaan konflik, melainkan sebuah energi kebangsaan. Kerukunan adalah sinergi yang produktif, di mana perbedaan identitas, keyakinan, dan latar belakang sosial dirajut menjadi kekuatan kolaboratif untuk menggerakkan kemajuan bangsa.
Dalam catatan sejarahnya, kehadiran Kementerian Agama bukan semata lahir dari tuntutan sosiologis, melainkan merupakan kebutuhan nyata bangsa yang majemuk. Republik ini tidak dibangun oleh satu golongan, melainkan oleh sinergi seluruh komponen bangsa sejak masa perjuangan kemerdekaan hingga hari ini", ujar Nasrudin.
Ditambahkannya, para founding fathers Kementerian Agama meletakkan cita-cita besar agar lembaga ini berkontribusi nyata dalam membina kehidupan keagamaan yang damai, sekaligus membuka jalan selebar-lebarnya bagi terwujudnya masyarakat yang adil, rukun, dan sejahtera.
Delapan puluh tahun perjalanan ini menegaskan bahwa Kementerian Agama didirikan sebagai penjaga nalar agama dalam bingkai kebangsaan. Kini, peran tersebut semakin luas dan semakin krusial: meningkatkan kualitas pendidikan agama dan keagamaan, merawat kerukunan umat beragama yang berlandaskan cinta kemanusiaan, memberdayakan ekonomi umat, serta memastikan agama hadir sebagai sumber solusi bagi persoalan bangsa.
"Sepanjang tahun 2025, kita telah bekerja keras membangun fondasi Kemenag Berdampak. Kita membuktikan bahwa semangat ini bukan sekadar slogan, melainkan kerja nyata yang hasilnya mulai dirasakan oleh umat. Transformasi digital yang kita lakukan secara masif telah menghadirkan layanan keagamaan yang lebih dekat, transparan, dan cepat.
Kita juga memperkuat fondasi ekonomi umat melalui ribuan pesantren, pemberdayaan ekonomi sosial keagamaan, seperti zakat, wakaf, infak, sedekah, diakonia, derma/kolekte, dana punia, dana Paramita, dan dana kebajikan. Program-program tersebut tidak hanya mendorong kemandirian lembaga keagamaan, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi masyarakat secara umum", ucapnya. (Saprudin)
